«

»

Jan 19

Jati Luwih

jatiluwih_20150903_191812

Sejarah Jati Luwih

Desa Jati Luwih, Penebel, Tabanan merupakan salah satu wisata alam yang menawarkan sejuta keindahan dan keunikan. Sejak dahulu perhatian dunia terhadap sawah penghasil beras merah atau beras Bali yang sangat khas ini sangat luar biasa, terlebih kini Jati Luwih menjadi salah satu nominator warisan budaya dunia. Sejak beberapa tahun belakangan, Jati Luwih selalu dikunjungi ratusan wisatawan dari berbagai negara maupun wisatawan domestik. Mengapa?

Lingkungan alamnya yang sejuk dengan latar belakang persawahan yang eksotis menampilkan daya tarik tersendiri membuat Jati Luwih memikat. Suasana akan sangat berbeda, manakala kita memasuki daerah ini. Tampak pemandangan yang indah dengan latar belakang pegunungan. Bagi mereka yang pernah mengunjungi desa ini mungkin akan berpendapat serupa, bahwa Jati Luwih benar-benar unik dan memiliki daya tarik tersendiri, sehingga sangat pantas untuk dipertahankan potensinya serta dikembangkan menjadi tujuan wisata sekaligus laboratorium alam.

jatiluwih1

Desa seluas 22 ribu km ini memiliki areal persawahan terasering dan cenderung diolah dengan sistem organik seluas 303 ha. Sawah seluas 303 ha inilah yang menjadi kawasan utama dan menjadi sumber kekuatan pesonanya. Dalam setahun kawasan ini menghasilkan beras merah sebanyak 1.515 ton dengan kualitas yang sangat berbeda dari daerah sekitarnya. Hampir sepanjang tahun, tidak terjadi alih fungsi lahan seperti yang marak terjadi pada daerah lainnya.

Di desa yang berbatasan dengan Desa Adat Soka ini, masyarakat sangat mencintai alam yang mencintai profesinya sebagai petani.

Aktivitas Spiritual

Selain daerah persawahan, terdapat pula perkebunan, hutan lindung dan kawasan penyangga lainnya seperti keberadaan Pura-pura besar, di antaranya Pura Petali, Rambut Sedana, Besi Kalung, Pura Bhujangga Waisnawa dan pura lainnya. Selain terkenal dengan potensi alam, daerah ini juga cocok dalam melakukan aktivitas spiritual. Sebab, selain kondisi alam yang sangat mendukung, sejarah desa ini memang diawali oleh keberadaan seorang rsi yakni Bhagawan Rsi Canggu sekitar tahun 1398 M atau Icaka warsa 1320, sesuai dengan sejarah berdirinya Pura Patali yang tercantum dalam Bhuwana Tatwa Maharsi Markandeya. Tempat beliau melakukan yoga semadi dinamakan Gunung Sari dan tempat tinggal Ida Bagus Angker dinamakan Jati Luwih karena beliau sudah melakukan dwijati dengan menyandang nama Ida Bhujangga Rsi Canggu.

Dengan demikian, selain berlatar belakang historis yang unik, Jati Luwih juga bermakna keluhuran budi yang turut memberi keunikan pada daerah beriklim sejuk ini.

Keunikan lain daerah ini adalah adanya perpaduan konservasi antara alam dan budaya yang sulit ditemukan pada belahan lain. Terasering khas persawahan, dengan pengolahan lahan menggunakan cara tradisional yang sarat dengan budaya, membuat daerah penghasil padi Bali ini mendapat perhatian luas banyak kalangan.

Selain itu, menurut beberapa ahli yang telah mengunjungi dan mempelajari daerah ini termasuk Prof. Parimartha, Ketua Tim Ahli Warisan Budaya Dunia Propinsi Bali, konsep pertanian dalam aktivitasnya tetap mempertahankan Tri Hita Karana menjadi kekuatan tersendiri, sehingga pantas untuk mendapat perhatian dalam menjaga kelestariannya.

Model pertanian yang diterapkan secara turun-temurun di desa yang berada pada ketinggian 500-1500 meter ini sangat unik. Masyarakat di desa ini masih menggunakan cara dan alat-alat tradisional dalam mengerjakan sawahnya. Ada dua musim penanaman yakni penanaman padi beras merah (yang disebut padi lokal) pada bulan Desember sampai Januari dan varietas lain pada musim gadu yakni bulan Juli. Pada musim gadu masyarakat bebas menanam jenis padi yang diinginkan seperti padi Mansur, ketan atau ketan hitam, tetapi setelah musim itu berlalu, masyarakat kembali menanam padi lokal atau padi Bali. Warna rasa dan bau beras merah yang dihasilkan sangat khas dan berbeda dengan desa sekitarnya, sehingga sangat laku di pasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>